Mengenal Diri dan Tujuan Hidup


Penulis: Rania Hendradwiputri


Siapa Anda? Apakah Anda sudah cukup mengenal diri Anda sendiri? Bagaimana Anda mendeskripsikan diri Anda? Apa hal yang Anda sukai dan tidak sukai? Apa kelebihan dan kekurangan diri Anda? Bagaimana cara Anda mempertahankan kelebihan dan mengatasi kekurangan diri Anda? Apa hobi Anda? Apa makanan kesukaan Anda? Apa ada makanan yang Anda tidak sukai? Apa warna kesukaan Anda? Mengapa Anda menyukai warna tersebut?

    Apakah Anda mengalami kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Jika tidak, syukurlah. Sebab tak semua orang di dunia ini dapat dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti di atas. Pada hari ini kita akan membahas tentang mengenali diri sendiri, atau dalam psikologi biasa disebut self-knowledge. Self-knowledge adalah ketika kita selaku individu memiliki informasi utuh dan “otentik” tentang diri kita sendiri (Wilson, 2021; Nikolova, 2019). “Otentik” di sini perlu ditekankan. Self-knowledge bukan berarti kita hanya mengenali kelebihan diri kita ataupun kekurangan diri kita. Self-knowledge adalah proses mengenali, mendalami, memahami seluruh aspek dalam diri kita, baik itu positif maupun negatif, baik itu kelebihan maupun kekurangan, baik itu kita sukai maupun tidak kita sukai. Jadi, jika ada segelintir orang yang hanya dapat menjawab hal-hal negatif tentang dirinya dan tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan kelebihan-kelebihan dirinya, ia belum dapat dikatakan telah memiliki self-knowledge yang baik. Begitupun dengan orang-orang yang menutup-nutupi kekurangan dirinya, mereka juga belum dapat dikatakan telah memiliki self-knowledge yang baik.

    Memiliki self-knowledge yang baik dapat berdampak sangat baik dalam penentuan tujuan hidup (Rabb, 2022; Arteo, n.d.). Sebab dengan self-knowledge yang utuh dan otentik, sebagaimana apa adanya yang ada dalam diri kita baik positif maupun negatif, kita jadi memiliki bayangan yang nyata tentang potensi diri kita sekaligus batasan diri kita. Jadi, kita akan dapat menentukan pilihan-pilihan kegiatan yang ingin kita lakukan dalam hidup kita dengan mempertimbangkan kemampuan kita dalam hal tersebut sekaligus halangan-halangan yang mungkin akan terjadi.

    Sebagai contoh, kita memiliki gol ingin berkuliah di luar negeri. Akan tetapi, kita belum memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Faktor biaya juga menjadi halangan utama untuk menggapai gol tersebut. Dengan mengetahui dua hal tersebut, kita akan dapat membuat gol-gol kecil, seperti mulai mencari pekerjaan dalam rangka menabung biaya kuliah di luar negeri sambil mencari-cari les bahasa Inggris agar kemampuan bahasa Inggris kita terasah sehingga kita tidak akan mengalami kesulitan berkomunikasi di luar negeri nanti.

    Contoh lainnya adalah kita mulai bimbang apakah kita harus mulai mencari pasangan hidup dan menikah atau belum. Orang-orang di sekeliling kita sudah banyak yang membangun keluarga baru. Namun, kita memiliki luka di masa lalu yang berhubungan dengan hubungan romantis, semisal pengalaman tidak menyenangkan dengan pacar semasa sekolah atau pengalaman tidak menyenangkan dalam keluarga semasa kecil. Dengan mengetahui hal tersebut, kita akan lebih mudah memulai menyusun rencana-rencana apa yang harus dilakukan agar kegundahan tentang mencari pasangan baru ini dapat terselesaikan. Bisa dengan bercerita dengan kerabat yang dipercayai atau ke profesional seperti psikolog. Atau mungkin dengan menenangkan emosi dan pikiran yang berkecamuk terlebih dahulu dengan menulis buku harian, barulah diceritakan pada orang lain atau profesional.

    Jika kita jauh lebih mengenal diri sendiri, maka kita akan jauh lebih mudah mengambil keputusan yang baik untuk diri kita. Proses mengenal diri sendiri memang adalah proses seumur hidup, sebagaimana pengalaman yang terus-menerus berubah sepanjang kita hidup akan mengubah diri kita secara terus-menerus. Jadi, self-knowledge harus dilakukan dan disadari secara berkala sehingga kita akan jauh lebih peka pada kebutuhan diri kita sendiri. Kita akan jauh lebih paham pikiran dan perasaan diri kita sendiri, serta alasan dari perilaku-perilaku kita. Dengan demikian, dengan adanya self-knowledge, kita akan jauh lebih memiliki kontrol atas diri kita.

    Tetap tenang dan bahagia dalam menjalani hidup. Selamat menjalani proses self-knowledge dengan baik! Kadangkala memang akan terasa berat, tetapi percayalah, pada akhirnya semuanya akan berbuah manis pada waktunya.


Sumber Referensi

Arteo. (n. d.) How understanding yourself helps you reach your goals. UK Therapy Guide. Retrieved from https://www.uktherapyguide.com/news-and-blog/how-understanding-yourself-helps-you-reach-your-goals/nblog1206

Nikolova, N. (2019, January 14). Want to be happier? Try getting to know yourself. The Conversation. Retrieved from https://theconversation.com/want-to-be-happier-try-getting-to-know-yourself-109451#:~:text=By%20self%2Dknowledge%2C%20psychologists%20mean,motivations%2C%20thinking%20patterns%20and%20tendencies.&text=Understanding%20our%20own%20emotions%20and,us%20to%20make%20better%20decisions

Raab, D. (2022, January 11). Self-awareness and setting intentions: Setting intentions can help us understand our life's bigger picture. Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-empowerment-diary/202201/self-awareness-and-setting-intentions

Wilson, C. R. (2021, December 17). What Is Self-Knowledge in Psychology? 8 Examples & Theories. PositivePsychology. Retrieved from https://positivepsychology.com/self-knowledge/

Comments