Mengapa self-awareness sulit untuk dilakukan?


PENULIS: Rania Hendradwiputri

Telah dipaparkan dalam artikel-artikel sebelumnya bahwasanya self-awareness adalah memiliki kesadaran penuh atas diri kita sendiri (Ackerman, 2021; Cherry, 2020). Kita mengenali diri kita sendiri secara utuh, mulai dari nilai-nilai yang kita anut, kelebihan dan kekurangan kita, hobi kita, bakat dan minat kita, apa yang kita sukai dan tidak kita sukai, dan lain-lain.
    Akan tetapi, masih banyak orang yang belum mengenali dirinya sendiri dan memiliki kemampuan self-awareness yang rendah. Mengapa bisa demikian? Sejatinya sesungguhnya kita adalah orang yang paling mengenal diri kita sendiri, bukankah demikian? Akan tetapi, tetap saja banyak orang yang sering bingung dengan dirinya sendiri sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “sebetulnya saya maunya apa?”, “sebetulnya saya sukanya apa?”, “sebetulnya ini sudah tepat atau belum untuk saya?” dan lain sebagainya. Mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti ini masih sering muncul dalam benak kita?
    Menurut Locklear (2019), sebab-sebab orang bisa memiliki kemampuan self-awareness yang rendah adalah sebagai berikut:
  • Kita cenderung lebih memilih untuk melihat sisi positif dari segala macam hal, apalagi tentang diri kita sendiri. Kita cenderung malu untuk mengakui kekurangan diri kita, belum lagi orang-orang di sekeliling kita cenderung akan mempermalukan, mencemooh, menghina kekurangan kita sehingga kita akan memilih untuk menutupi dan tidak mengakui kelemahan kita. Akan tetapi, jika ini terus dilakukan secara berulang-ulang selama beberapa lama, kita akan jadi tidak menyadari bahwa kita sebetulnya sedang menutupi kekurangan kita, bahkan kita bisa jadi tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah kekurangan kita yang sebetulnya bisa ditangani secara lebih positif.
    • Sebagai contoh, kita sering dibilang “cengeng” karena mudah menangis. Lalu kita jadi memiliki tendensi untuk menahan-nahan tangisan kita sampai akhirnya tiba saat kita sulit menangis padahal dada kita selalu sesak seperti ingin menangis. Hal ini diakibatkan kita yang tidak mau mengakui “kekurangan” kita, padahal sebetulnya kita bisa saja menanggulangi tendensi “cengeng” itu dengan cara yang lebih sehat, seperti mengolah emosi negatif dengan melampiaskannya dalam bentuk tulisan atau gambar sehingga tangisan kita akan jauh lebih terkendali.
  • Kita cenderung sulit menerima kritik dan saran. Memang, kritik dan saran seringkali membuat kita merasa bersalah, tidak berharga, bodoh “kenapa begini saja aku salah?”, “ya, ampun, aku merepotkan sekali, ya”, “ternyata aku seburuk ini di mata orang-orang” sehingga kita akan terpuruk dan memilih untuk menutupi kekurangan-kekurangan dalam diri kita agar kita tidak akan dikritik lagi. Padahal sebetulnya kita dapat menelaah kritik dan saran tersebut secara lebih positif, bahkan dengan tetap mengakui emosi-emosi negatif yang muncul tatkala kita baru saja menerima kritik dan saran pedas dari seseorang.
    • Sebagai contoh, seseorang mengkritik kita terlalu lelet dalam mengerjakan tugas. Kita boleh merasa kesal, apalagi jika kritikan tersebut disampaikan secara pedas dan menyakitkan, tetapi kita tetap perlu mengevaluasi diri kita sendiri “artinya ada yang perlu kuperbaiki dari manajemen waktuku”.
  • Tendensi masyarakat yang suka yang “bagus-bagus” saja. Sudah merupakan hukum tak tertulis dalam masyarakat bahwa yang bagus akan selalu dipuji dan yang buruk akan selalu dihina, padahal sebetulnya sesuatu yang “perlu diperbaiki lagi” tetap perlu diapresiasi. Jadilah orang yang dapat memberikan kritik dan saran secara membangun, dengan tidak melupakan usaha yang telah dikerahkan dalam proses pengerjaannya. Jadi, orang-orang akan tidak malu lagi mengakui kekurangan dalam dirinya sebab mereka akan tetap diterima apa adanya terlepas dari kekurangan-kekurangannya.
    • Sebagai contoh, jika kamu merasa pekerjaan seseorang kurang rapi dan banyak kesalahan pengetikannya, kamu dapat bilang “terima kasih sudah dikerjakan tepat waktu, dan aku bisa lihat kamu mengambil topik yang tepat. Akan tetapi, cukup banyak kesalahan pengetikan di sini, di sini, dan di sini. Apakah kamu dapat memperbaikinya kembali?”.
    Berikut adalah sebab-sebab mengapa seseorang bisa memiliki self-awareness yang rendah. Tidak apa-apa jika kamu masih dalam tahap menerima kekurangan diri, proses penerimaan diri sendiri adalah bentuk dari self-awareness. Tidak ada proses yang berjalan secara stabil, tentu ada naik dan turunnya. Yang terpenting, kamu tetap berusaha menjadi diri yang lebih baik lagi seiring hidupmu berjalan. Tetap semangat!

SUMBER REFERENSI
Ackerman, C. E. (2021, December 6). What is self-awareness and why is it important? [+5 ways to increase it]. PositivePsychology. Retrieved from https://positivepsychology.com/self-awareness-matters-how-you-can-be-more-self-aware/
Cherry, K. (2020, July 14). Self-awareness development and types. verywellmind. Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-is-self-awareness-2795023#:~:text=Self%2Dawareness%20involves%20being%20aware,the%20self%2Dconcept%20to%20emerge
Locklear, J. (2019, September 5). Why self-awareness is difficult & how to get better at it. simpleminded. Retrieved from https://www.simpleminded.life/why-self-awareness-is-difficult/#:~:text=Examining%20negative%20aspects%20of%20ourselves,worth%20and%20diminished%20self%20awareness

Comments