EMANG KENAPA, SIH, KITA HARUS “MIND-FULL”?

 


Penulis: Rania Hendradwiputri


Belakangan ini, istilah “mind-full” amat sering dibicarakan oleh platform-platform kesehatan mental. Mindfulness adalah suatu metode yang digunakan untuk manusia dapat fokus ke apa yang tengah dihadapinya pada saat ini dan sekarang, serta menyingkirkan segala penilaian yang terlintas dalam pikiran dan menerima segala sesuatu sebagaimana adanya. Dengan kata lain, mindfulness adalah suatu cara yang dapat kita lakukan agar kita tetap ada “di sini dan sekarang”, tidak di masa lalu ataupun di masa depan, melakukan pekerjaan yang tengah kita kerjakan secara sadar dan fokus, tanpa pikiran mengembara ke mana-mana, dan tidak menilai suatu peristiwa, pikiran, ataupun perasaan dengan label apa pun, hanyalah netral dan dihayati apa adanya.

Kadang-kadang, ketika kita sedang mengerjakan tugas, pikiran kita melayang ke beberapa hal, sesederhana “besok aku masak apa, ya?”, “besok aku olahraga, nggak, ya?” sampai sejauh “sampai kapan, ya, aku kerja begini terus?”, “kapan, ya, aku nikah?”, “kira-kira sepuluh tahun lagi aku masih hidup, nggak, ya?” sampai-sampai kita tidak lagi betul-betul fokus ke tugas yang sebetulnya sedang dikerjakan, malah sibuk dengan pikiran-pikiran kita yang berkelana ke mana-mana. Akibatnya, kita mengerjakan tugas tersebut secara autopilot dan kita tidak dapat menarik hikmah dari pengerjaan tugas tersebut, hanya sekadar mengerjakannya karena “wajib” tanpa ada penghayatan apa-apa, seperti “karena aku suka tugasnya”, “tugasnya menantang, ya”, “tugas ini menambah pengetahuanku”, dan lain sebagainya yang dapat memperkaya makna dari tugas yang tengah dikerjakan tersebut terhadap diri kita.

Kadang-kadang juga, kita sering menolak keberadaan emosi-emosi negatif dalam diri kita. Apabila kita merasa sedih, kita biasanya akan berpikir “nggak, nggak boleh sedih. Ganggu saja ini perasaan sedih, ini biasa saja, kok”. Atau apabila kita merasa marah, kita bisa saja berpikir “begini saja, kok, marah, sih? Padahal yang lain ‘kan biasa-biasa saja? Aku terlalu berlebihan, drama queen banget, sih”. Bahkan, emosi-emosi positif saja bisa dapat penilaian yang negatif, lho, seperti “apa, sih, begini saja aku, kok, senangnya sampai sebegininya? Padahal ini bukan apa-apa, nggak ada spesial-spesialnya”. Padahal sejatinya semua emosi yang kita rasakan itu valid, apa adanya memang demikian, dan semestinya bisa diterima apa adanya tanpa adanya penilaian-penilaian buruk yang malah dapat memperburuk mood kita.

Dengan melatih mindfulness, kita akan dapat melatih diri kita untuk hanya fokus pada kenyataan yang “pada saat itu” memang tengah terjadi. Apabila pada saat ini kita tengah mengerjakan tugas, maka fokuslah pada tugas tersebut sampai tugasnya selesai. Memang, tak dapat dipungkiri kita akan tetap dapat memikirkan hal-hal lain di luar tugas tersebut, sesederhana “nanti setelah tugasnya selesai makan apa, ya?”, tetapi itu dapat dipikirkan nanti setelah tugasnya selesai, bukankah demikian? Pikiran itu dapat menunggu hingga tugasnya selesai baru kita akan hampiri lagi, memutuskan apa yang akan kita makan setelah tugasnya betul-betul selesai. Jadi, salah satu manfaat paling hebat dari menjadi “mind-full” adalah kita dapat sungguh-sungguh fokus terhadap apa yang sedang kita lakukan sehingga kita akan jauh lebih cepat menyelesaikannya, waktu yang kita gunakan akan jadi lebih singkat dan efektif apabila kita betul-betul dapat berkonsentrasi penuh dalam penyelesaian tugasnya. Selain itu, kita juga dapat memperoleh pengalaman yang “nyata”, tidak “autopilot” karena pikiran, perasaan, dan perilaku kita betul-betul sepenuhnya dicurahkan kepada tugas tersebut.

Selain di atas, mindfulness juga memberikan satu lagi manfaat yang tak kalah hebatnya, yaitu kita akan dapat lebih mudah mengendalikan emosi kita. Wah, bagi kita yang sering mood swing, mindfulness amat direkomendasikan untuk dilakukan, lho! Dalam mindfulness, kita dituntut untuk tidak menghakimi apa pun yang sedang kita rasakan, pikirkan, atau lakukan. Apabila kita sedang merasa sedih, kita tidak boleh menganggap rasa sedih itu “pengganggu”, “berlebihan”, “tidak pantas”, “sebaiknya pergi saja”, “nggak berguna”, dan lain sebagainya. Terimalah rasa sedih itu apa adanya, fokuslah ke alasan mengapa kita merasa sedih, misalkan kita sedih karena kita telah melakukan sebuah kesalahan kepada teman kita. Kesalahan apa itu? Misalnya kita sempat salah bicara kepada teman kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan jadi lebih baik? Meminta maaf kepada teman kita. Fokuslah ke fakta-fakta yang ada dalam suatu peristiwa, bukan ke penilaian kita terhadap peristiwa tersebut. Ya, kita wajar saja merasa “jahat”, “buruk” setelah melukai hati seseorang, tetapi apabila perasaan itu dibiarkan berlarut terus-menerus, apakah akan dapat mengubah keadaan? Tidak. Kita malah akan semakin merasa bersalah, cemas, takut sehingga kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Padahal sesungguhnya jika kita berhasil mengendalikan rasa sedih kita, sebagai contoh “iya, aku sangat sedih, aku boleh menangis, aku boleh menata kembali emosiku terlebih dahulu. Setelah aku sudah cukup stabil, aku akan meminta maaf pada temanku”, hasil yang akan kita dapatkan di kemudian hari akan jauh lebih baik, bukankah demikian?

Dengan menjadi “mind-full”, kita akan dapat memanfaatkan waktu dengan lebih baik dan efisien, serta dapat lebih menguasai emosi dan pikiran kita. Ingin tahu apa saja yang dapat kita lakukan untuk menjadi “mind-full”? Tunggu artikel selanjutnya, ya!




SUMBER REFERENSI

HelpGuide.com. (n. d.). A Harvard Health Article: Benefit of Mindfulness. https://www.helpguide.org/harvard/benefits-of-mindfulness.htm

Sutton, J. (2021, December 7). The Importance of Mindfulness: 20+ Reasons to Practice Mindfulness. PositivePsychology.com. https://positivepsychology.com/importance-of-mindfulness/


Comments