SELF IMPROVEMENT - Sekeranjang Apel


Seorang ibu sedang memilih apel dalam keranjang bambu di sebuah Pasar. Ia menyisihkan apel-apel yang busuk untuk mendapatkan beberapa yang segar. Di antara yang segar dia memilih lagi yang matang. Di antara yang matang dia mengembalikan yang kecil ke dalam keranjang untuk mengumpulkan yang besar-besar. Selanjutnya, dia pun melakukan tawar-menawar untuk mendapatkan apel dengan harga termurah di antara apel-apel yang besar tadi. Seorang ibu seringkali memilih yang terbaik dari apel yang tersedia, karena itu akan menjadi miliknya untuk dikonsumsi dan menjadi bagian dari unsur kesehatan dan pembentuk tubuhnya.
Mayoritas orang tampaknya melakukan hal yang sama seperti ibu tadi dalam memilih apa yang akan menjadi miliknya. Apalagi, untuk sesuatu yang hendak menjadi bagian dari tubuh kita yang masuk melalui apa yang kita konsumsi. Tidak banyak orang pula yang mau sakit karena kuman yang ada pada makanan busuk. Inilah sifat alami yang dimiliki manusia dimana seseorang akan selalu memilih yang terbaik.
Sayangnya, hal tersebut tidak sering terjadi saat kita memilih ‘makanan’ bagi pikiran. Bila saja cermat mengamati diri, dalam sehari-hari ternyata kita lebih banyak menyerap hal-hal negatif untuk menjadi bahan yang akan membangun pikiran seseorang. Kemarahan, kebencian, isu dan fitnah, dendam, iri hati, dan lain sebagainya. Tanpa disadari kita sedang menyerap virus akal budi ke dalam pikiran yang nantinya akan membangun ke seluruh sel-sel tubuh kita.
Sudah menjadi sebuah rumusan bahwa setiap bahan yang akan terkumpul nantinya membentuk apa yang pantas terbentuk. Dengan sekumpulan bahan negatif tersebut, harapan agar dapat memiliki hidup dengan penuh kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, maupun kesuksesan akan terasa lebih sulit tercapai. Hal tersebut sama seperti mengharapkan makan nasi goreng tetapi yang kita kumpulkan adalah buah-buahan, es, susu, dan sejenisnya. Mustahil.
Kelemahan terbesar dalam kehidupan yang paling sering membawa hidup kita pada kegagalan adalah sifat tidak konsisten. Seperti di awal, memilih makanan untuk tubuh kita mencari yang terbaik, namun untuk ‘makanan’ bagi pikiran justru kita lebih gemar memilih yang terburuk. Rupanya, ini menjadi alasan ada banyak orang kaya yang memiliki tubuh sehat karena makanan yang dikonsumsi adalah makanan sehat, namun memiliki batin yang sakit karena gagalnya memasukkan hal-hal positif ke dalam pikirannya. Begitu pula sebaliknya, ada orang miskin yang bersahaja memiliki keadaan tubuh dan kehidupan yang sehat lahir dan batin, karena dapat memilih segala yang terbaik bagi tubuh dan juga pikirannya, sekalipun itu merupakan hal-hal sederhana.
Kehidupan duniawa yang mirip dengan Pasar. Ramai serta padat oleh berbagai pilihan hidup, dipenuhi dengan berbagai aktivitas sekaligus hal-hal negatif di dalamnya. Kadang terdapat sampah, ada pemalak dan pencopet, kecoa dan tikus, segala bau amis dan busuk, ada senyum sinis, ada kemarahan, dan sebagainya. Begitu riuh oleh warna-warni kehidupan yang harus dipilih dengan sangat hati-hati. Siapa saja yang pernah bersentuhan dengan kehidupan pasar dapat mengerti bahwa dibutuhkan latihan yang cukup untuk dapat memilih dan menawar hal terbaik yang nantinya akan dibawa pulang untuk keluarga.
Berbagai peristiwa dalam kehidupan ini mirip juga dengan sekeranjang buah apel. Mereka menjadi bahan-bahan yang akan menentukan seperti apa kehidupan yang kita miliki. Begitu pula dengan diri setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sosial sehari-hari. Dalam diri mereka, terdapat sekeranjang sifat yang tercampur antara kebaikan dan keburukan. Tanpa ada maksud mencemooh sifat-sifat negatif yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang, kita hanya perlu meneladani atau mencontoh sifat terbaik yang dimiliki oleh seseorang.
Memilih dan meneladani sifat-sifat baik yang ada dalam diri seseorang untuk dijadikan bagian dari sifat-sifat baik kita, tentu akan memberikan banyak kebaikan bagi diri kita, tentu akan memberikan banyak kebaikan bagi diri kita. Namun, dengan halnya memilih apel terbaik di antara sekeranjang apel, memilih kebaikan dalam diri seseorang juga diperlukan latihan. Sayangnya, kebanyakan dari kita lebih mudah melihat dan menilai keburukan orang lain, kemudian mencemooh bahkan menghujat mereka atas keburukannya.
Mengenali keburukan atau kesalahan orang memang bukan hal yang mutlak keliru. Namun, mencemooh dan menghujat sisi negatif bukanlah tindakan yang positif. Kedua tindakan tersebut justru akan membuat kita tergiring melakukan suatu tindakan keburukan yang lainnya. Mengetahui keburukan orang lain memanglah diperlukan supaya kita dapat menghindarkan hal tersebut agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Bagi yang bijak, kesalahan, keburukan, atau kekeliruan seseorang dapat dijadikan guru yang akan memberi contoh tentang hal-hal yang layak dihindari. Inilah cara belajar menjadi baik tanpa perlu mencemooh atau menghujat keburukan seseorang. Kita hanya perlu mengenali apel busuk agar kita tak memilihnya untuk menjdi bagian dari keranjang yang kita miliki.





Ditulis oleh : Mukhammad Syafi'i 
(Mahasiswa Psikologi Angkatan 2018 UIN Walisongo Semarang)









Referensi
Mustika, W. 2017. Saat Semesta Berbicara. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo

Comments

Artikel