Self-Acceptance: Awal dari Perubahan dalam Diri Individu ke arah yang Lebih Baik


Pernah ngga sih, kalian bertanya tentang diri kalian dengan diawali kata “kenapa”? misalnya, Kenapa ya, ko aku ngga secantik/seganteng dia? Kenapa ya, ko aku ngga bisa sekeren dan seterkenal dia? Kenapa ya, ko hidup aku gini-gini aja? Kenapa ya, ko aku ngga seberuntung dia?
Beberapa pertanyaan tersebut pasti pernah atau bahkan masih bertebaran di pikiran kalian kan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan muncul ketika kita menganggap diri kita lebih rendah atau tidak seberuntung orang lain. Dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membuat diri kita menjadi tidak percaya akan diri sendiri, insecure, selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, merasa cemas, merasa tidak berguna dan bernilai. Sekarang tergantung dari kita, bisa menerima hal-hal tersebut sebagai awal dari sebuah perubahan hidup atau kita akan berhenti ditempat tanpa perubahan apapun dan terjebak dengan semua rasa itu. 
Lalu, apa langkah awal yang harus kita lakukan untuk melakukan perubahan dalam hidup kita?
Langkah awal yang dapat kita lakukan adalah dengan Self-Acceptance, menerima semua kekurangan yang ada dalam diri kita dan sadar akan ketidaksempurnaan yang kita miliki. Dengan begitu, kita akan berusaha untuk mengubah apa yang perlu kita ubah, memperbaiki semua kekurangan yang ada dalam diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Carl Jung pernah berkata “We Can’t Changes anything unless We Accept it” artinya kita tidak dapat mngubah sesuatu jika kita tidak menerima sesuatu tersebut. 
Kemudian, gimana caranya untuk dapat menerima diri sendiri (self-acceptance)? Nah untuk itu, mari kita mengenal lebih lanjut mengenai self-acceptance ini yaa. Simak artikelnya sampai selesai yaaa!!!!

Apa sih Self-Acceptance itu?
Menurut Kubler Ross (dalam Restin, 2018) self-acceptance adalah ketika seseorang mampu memahami keadaan dirinya dan memiliki harapan serta tujuan dalam hidupnya. Sedangkan menurut Nur Chasanah (2020) menjelaskan bahwa self-acceptance adalah suatu kondisi dan sikap psositif seseorang dalam bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, menerima semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, mengetahui kemampuan dan kelemahan dalam dirinya, tidak menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain dan berusaha dengan sebaik mungkin untuk dapat berubah menjadai lebih baik dari diri yang sebelumnya.
Faktor penting yang mempengaruhi seseorang memiliki self-acceptance (Hurlock, 1994; dalam Restin, 2018) diantaranya yaitu pemahaman diri, harapan yang realistic, tidak adanya hambatan dari lingkungan, tidak adanya tekanan emosi yang berat, serta konsep diri yang stabil. Sheerer (dalam Restin, 2018) menambahkan faktor lain yang mempengaruhi self-acceptance yaitu dapat menerima  celaan, tidak ikut-ikutan, berani bertanggungjawab serta memiliki keyakinan atau kepercayaan dalam menghadapi masalah.
Kemudian, gimana sih ciri-ciri seseorang yang sudah memiliki self-acceptance itu? Jadi menurut Osborne (2015) menjelaskan bahwa ciri-ciri individu yang memiliki self-acceptance yaitu individu tersebut mampu mengendalikan emosinya, berpikir positif, memiliki penilaian realistis mengenai keterbatasan tanpa harus mencela diri sendiri, mampu mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, mampu menempatkan diri di berbagai lingkungan, optimis dalam menjalani hidup dan tidak mengharapkan belas kasihan dari seseorang. 
Lalu, gimana sih caranya untuk dapat menerima diri sendiri? beberapa hal yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat menerima diri sendiri diantaranya yaitu:
1. Mengenal dan memahami kekurangan serta kelebihan yang ada dalam diri kita, dengan begitu kita bisa tau apa saja yang perlu kita perbaiki dan apa saja yang perlu kita tingkatkan lagi.
2. Berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap individu itu berbeda. Tuhan menciptakan manusia dengan bagiannya masing-masing, dengan berbagai karakteristik yang berbeda antara satu sama lainnya. Tidak ada yang sama persis di dunia ini dan tidak ada yang sempurna didunia ini, karena kesempurnaan hanyalah milik sang pencipta.
3. Cintai diri sendiri, cintai diri sendiri dulu baru mencintai orang lain, karena gimana caranya kita memberikan cinta kepada orang lain kalau kita saja tidak memiliki cinta atas diri sendiri
4. Bersyukur dengan apa yang dimiliki dan apa yang sudah diberikan Tuhan untuk kita, karena Tuhan tidak akan pernah salah dalam menciptakan makhluknya. Percayalah bahwa disetiap permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya.

Nah, gimana niiih, sudah paham belum mengenai self-acceptance? Jadi kuncinya dalam penerimaan diri ini adalah dengan bersyukur atas semua nikmat dan cobaan yang diberikan sang pencipta. Dengan mengenali dan memahami kelemahan serta kelebihan yang ada dalam diri akan membantu kita untuk proses menuju self-acceptance. Awalnya memang bukan hal mudah, namun dengan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan perubahan dalam diri dan konsistensi untuk melakukannya serta bersyukur atas apa yang diberikan, maka self-acceptance itu akan membawa perubahan diri menuju kea rah yang lebih baik lagi.
Sekian artikel yang dapat ditulis, terimakaasiiiih. Semoga bermanfaat untuk kita semua. And see you in the next article.





Ditulis oleh: Siti Aulin Ni’mah (Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)






Reference:
Puspita Restin Dwi. 2018. Hubungan Antara Self Eficacy dengan Penerimaan Diri pada PAsien Penyakit Jantung. Skripsi. Universitas Islam Indonesia
https://sahabatkapas.org/self-acceptance-mengapa-harus-menerima-diri-sendiri/ 
https://bkpp.demakkab.go.id/2020/04/self-acceptance-langkah-awal-menjadi.html?m=1 

Comments

Artikel